Organisasi Kampus sampai Semester Tua, Masih Perlu?


 Semester 1 sampai 3, rasanya ikut organisasi itu wajib hukumnya. Kita semangat banget daftar sana-sini: BEM, Himpunan, UKM, komunitas debat, apa aja deh yang penting aktif. Tapi makin ke sini, ketika udah masuk semester 6, 7, atau bahkan 8, muncul satu pertanyaan yang sering mampir ke kepala: “Masih perlu nggak sih aktif di organisasi kampus?”

Jawabannya? Nggak ada yang absolut. Semua balik lagi ke diri kita masing-masing dan apa tujuan yang lagi dikejar.

Buat sebagian orang, organisasi adalah tempat bertumbuh. Dari situ, mereka belajar komunikasi, manajemen waktu, sampai kepemimpinan. Apalagi kalau punya target berkarier di bidang yang butuh banyak relasi dan pengalaman lapangan—organisasi jelas bisa jadi batu loncatan.

Tapi ada juga yang di semester tua mulai sadar: prioritas hidup berubah. Ada yang harus fokus ke skripsi, kerja sampingan, persiapan CPNS, atau sekadar pengin menata kesehatan mental. Di titik ini, ikut rapat sampai malam atau ngurus event gede bisa jadi beban, bukan lagi ruang belajar.

Dan itu nggak salah.

Yang salah adalah ketika kita maksa tetap aktif, padahal sudah nggak punya energi atau tujuan yang jelas. Ujung-ujungnya kita cuma jadi penggembira. Ada di struktur, tapi kosong kontribusi. Atau lebih parah: kita masih di situ cuma karena nggak enakan sama teman atau senior.

Menurutku pribadi, organisasi itu alat, bukan tujuan. Kalau alatnya udah nggak relevan dengan jalan yang kita tempuh sekarang, ya wajar ditinggal. Tapi kalau kamu masih bisa dapetin manfaat dan memang enjoy di dalamnya, kenapa harus berhenti?

Intinya sih: jangan cuma ikut karena “takut nggak dianggap”. Percaya deh, hidupmu jauh lebih luas dari struktur organisasi kampus. Dan nggak semua pembelajaran datang dari ruang rapat.

Komentar

Postingan Populer